Di tengah terik matahari menyengat di TPA Terjun Medan Marelan, Kota Medan, Ika menunjukkan kegigihan luar biasa hidup.
Bersama para pemulung lainnya, ia tak gentar mengayunkan ganju kecil, mengais rezeki dari tumpukan sampah yang tak pernah habis. Bagi Ika dan banyak warga di sekitar TPA, limbah rumah tangga ini adalah nadi kehidupan, sumber penghidupan utama demi menyambung hidup.
Berikut ini, Info Kejadian Medan akan menyelami lebih dalam Kisah perjuangan dan harapan di tengah kerasnya realitas.
Laju Ganas Pemulung Di Tumpukan Emas
Di bawah terik matahari, para pemulung bekerja tanpa henti, dengan sigap mengayunkan ganju kecil mereka. Mereka mengenakan topi atau selendang yang melilit kepala, sebagai pelindung dari sengatan panas dan bau menyengat. Setiap gerakan tangan mereka penuh ketelitian, memilih dan memilah sampah untuk dimasukkan ke karung goni atau keranjang bambu.
Gerakan tangan mereka semakin cepat dan penuh semangat ketika truk-truk sampah mulai mencurahkan berton-ton limbah ke lubang yang telah disediakan. Suasana hening menyelimuti area kerja, fokus sepenuhnya pada tumpukan rezeki di hadapan mereka. Hanya suara ekskavator yang terdengar, bergerak menggeser sampah.
Limbah rumah tangga dari seluruh penjuru Kota Medan ini bukan sekadar sampah, melainkan sumber mata pencarian utama bagi banyak warga. Mereka yang bermukim di sekitar TPA Terjun, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, sangat bergantung pada aktivitas ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ika, Dari Sampah Menjadi Berkah
Salah satu pemulung gigih yang ditemui adalah Ika. Wanita berusia 42 tahun ini sedang beristirahat sejenak di atas becak motor berpayung tenda, berbagi cerita dengan ibu-ibu lainnya. Payung tenda tersebut menjadi pelindung dari panas matahari yang begitu terik, memberikan sedikit kelegaan dari sengatan cuaca.
Ika menjelaskan cara kerjanya dengan rinci, “Dikumpulkan satu-satu, seperti kaleng, botol minuman mineral, plastik asoy, dan karung plastik.” Setelah itu, sampah-sampah tersebut dipilah berdasarkan jenisnya. “Habis itu dipilah-pilah, sesuai jenis. Nanti baru dibawa ke tengkulak untuk dijual. Kalau saya semua saya ambil, yang laku dijual,” ujarnya.
Ika, yang mengenakan hijab dan topi, memulai aktivitas memilah sampahnya pada Sabtu (24/1/2026) pukul 11.00 WIB. Meskipun pekerjaannya berat, ia melakukannya dengan semangat. Baginya, setiap jenis sampah memiliki nilai ekonomis yang dapat menjadi berkah bagi keluarganya.
Baca Juga: Inalum Perkuat Konservasi DTA Danau Toba di Tujuh Kabupaten Sumut
Fluktuasi Rezeki Di Balik Tumpukan Sampah
Ika bercerita bahwa tidak setiap hari ia bisa mendapatkan sampah dalam jumlah besar. Terkadang, ia hanya mampu mengumpulkan sekitar 50 kilogram, karena ia cenderung memilih jenis sampah yang bernilai jual tinggi, seperti karung plastik. Ini menunjukkan bahwa pendapatan pemulung sangat bergantung pada kualitas dan jenis sampah yang mereka temukan.
Namun, bila ia fokus mengumpulkan plastik asoy, ia bisa mendapatkan ratusan kilogram. Harga plastik per kilogram yang mencapai Rp 1.000 menjadi patokan pendapatan harian mereka. Fluktuasi harga dan jenis sampah sangat memengaruhi penghasilan Ika dan suaminya.
Dari hasil pengumpulan sampah ini, Ika yang bekerja bersama suaminya bisa memperoleh uang senilai Rp 80.000 hingga Rp 90.000 setiap hari. Namun, jumlah ini tidak selalu stabil dan dapat berbeda-beda, sangat tergantung pada proses pencarian dan keberuntungan mereka di lapangan.
Tak Hanya Memulung, Ika Juga Berjualan Es
Di sela-sela aktivitas memulung, Ika juga berjualan es. Usaha ini adalah salah satu upaya kreatifnya untuk menambah pundi-pundi rezeki keluarga. Ia melihat peluang dari keberadaan banyak pekerja dan pengunjung di sekitar TPA yang membutuhkan minuman segar di bawah terik matahari.
Es yang dijual Ika menjadi pelengkap penghasilannya, memberikan stabilitas finansial yang lebih baik dibandingkan hanya mengandalkan hasil memulung. Ini menunjukkan jiwa wirausaha yang kuat dalam diri Ika, tidak hanya pasrah pada satu sumber penghasilan.
Ika adalah contoh nyata bagaimana semangat juang dan kreativitas dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Meskipun berada di tengah tumpukan sampah, ia berhasil mengais rezeki demi menyambung hidup dan harapan keluarganya.
Jangan ketinggalan informasi terkini seputar Info Kejadian Medan dan beragam berita menarik penambah wawasan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari medan.kompas.com
- Gambar Kedua dari medan.kompas.com