Kisah memprihatinkan muncul dari Medan saat siswa terpaksa mempertaruhkan nyawa dengan melintasi pipa air demi berangkat ke sekolah.
Medan menjadi sorotan setelah video viral menunjukkan siswa SMP menyeberangi Sungai Deli lewat pipa air demi ke sekolah. Aksi berbahaya ini terjadi karena jembatan rusak sejak 2024, memaksa warga memilih jalur ekstrem atau memutar jauh. Pemerintah Kota Medan kini bergerak menyiapkan solusi permanen.
Simak beragam informasi menarik dan bermanfaat berikut ini untuk memperluas wawasan Anda hanya di Info Kejadian Medan.
Kronologi Masalah Akses Sekolah Yang Memprihatinkan
Kondisi ini mencuat awal April 2026 saat video siswi SMP melintasi pipa air di atas Sungai Deli viral di media sosial. Lokasinya di Jalan Adi Sucipto, Gang Damai, Medan Polonia. Jembatan bekas perlintasan kereta peninggalan Belanda (1887–1915) ambruk sejak 2024, menyisakan pipa PDAM sebagai satu-satunya akses.
Para siswa, khususnya dari SMP Negeri 34 Medan, terpaksa menempuh risiko tinggi setiap hari. Mereka berjalan di pipa licin setinggi belasan meter, dengan arus sungai deras di bawahnya. Video tersebut direkam di siang hari yang terik, menampilkan barisan anak-anak sekolah yang bergantian melintas demi menghemat waktu perjalanan.
Fenomena ini bukan kejadian baru. Sejumlah warga mengaku sudah lama bergantung pada jalur tersebut sebagai jalan pintas antar kecamatan. Viralnya video memicu perhatian publik dan pemerintah daerah untuk segera bertindak.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Penyebab Utama Jembatan Rusak dan Pipa Jadi Pilihan
Jembatan penyeberangan tersebut milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan sudah tidak difungsikan untuk kereta sejak lama. Kerusakan total terjadi pada 2024 akibat usia tua dan kurangnya perawatan. Lahan di bawahnya berada di perbatasan Kecamatan Medan Maimun dan Medan Johor, menyulitkan koordinasi pemeliharaan.
Siswa memilih pipa air karena lebih cepat dibanding jalur alternatif. Sebelumnya, jalan kaki via jembatan hanya butuh beberapa menit. Kini, tanpa jembatan, mereka harus naik angkot selama 10 menit atau lebih, menambah biaya dan waktu tempuh yang tidak terjangkau bagi sebagian keluarga.
Faktor ekonomi juga berperan. Banyak siswa mengaku lewat pipa untuk menghemat ongkos transportasi. Meski berisiko, jalur ini dianggap efisien oleh mereka yang tinggal di Kelurahan Kampung Baru. Hal ini mencerminkan minimnya infrastruktur pendukung di kawasan padat penduduk.
Baca Juga: VIRAL! Wanita Bawa Parang Ngamuk di Toko HP Medan, Ini Penyebabnya!
Rencana Penanganan Pemkot Medan dan Kolaborasi KAI
Wali Kota Medan, Rico Waas, menyatakan Pemkot akan berkolaborasi dengan PT KAI untuk membangun jembatan baru. “Jembatan ini sudah roboh sejak tahun 2024. Kami bersama PT KAI akan menyiapkan strategi pembangunan akses penyeberangan yang nyaman bagi masyarakat,” ujarnya melalui keterangan tertulis pada 18 April 2026.
Rico, yang mengaku pernah melewati jalur serupa saat sekolah, menekankan urgensi. “Sudah lama jadi jalan pintas. Dulu saya juga lewat situ karena lebih dekat. Segera kita koordinasikan, apakah bisa dibangun jembatan atau dicarikan jalur lain yang lebih aman,” tambahnya saat diwawancarai di Balai Kota.
Pembangunan diharapkan menghubungkan kembali aktivitas antar kecamatan. Rico berjanji mobilitas warga akan normal, dengan akses aman bagi siswa. Masyarakat mengapresiasi langkah ini, meski menunggu realisasi cepat untuk mencegah risiko lebih lanjut.
Dampak Berbahaya Bagi Keselamatan Siswa dan Mobilitas Warga
Risiko jatuh ke sungai menjadi ancaman utama bagi siswa. Pipa licin, sempit, dan tanpa pegangan membuat setiap penyeberangan seperti bertaruh nyawa. Cuaca buruk atau hujan deras bisa memperparah kondisi, berpotensi menyebabkan kecelakaan fatal.
Dampaknya meluas ke mobilitas warga. Akses antar kecamatan terputus, menghambat aktivitas ekonomi dan sosial. Orang tua cemas setiap pagi mengantar anak, sementara siswa sering terlambat ke sekolah. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Medan mengaku baru mengetahui isu ini setelah viral.
Secara jangka panjang, situasi ini mengganggu hak pendidikan anak. Warga khawatir trauma psikologis muncul akibat tekanan risiko harian. Desakan masyarakat pun menggema, menuntut solusi cepat agar kejadian serupa tidak terulang.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi pilihan tentang Medan kami hadirkan setiap hari spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Medan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari banten.pikiran-rakyat.com