Sumatera Utara menghadapi awal tahun 2025 yang berat dengan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayahnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD setempat tengah berupaya keras memastikan kebutuhan warga terdampak terpenuhi dan pemulihan berjalan optimal.
Tercatat, di Sumatera Utara, dua kejadian banjir dilaporkan, salah satunya di Kabupaten Tapanuli Selatan yang mengakibatkan 1.559 warga terdampak. Selain itu, bencana longsor di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, bahkan menimbun dua warga. Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Info Kejadian Medan.
Dampak Bencana Dan Korban Jiwa
Bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara pada 25 November 2025 telah mengakibatkan 19 warga menjadi korban. Rinciannya, 10 orang meninggal dunia, 3 orang luka-luka, dan 6 orang lainnya masih dalam pencarian.
Tercatat ada 20 kejadian bencana, terdiri dari 12 tanah longsor, 7 banjir, dan 1 pohon tumbang. Kejadian ini tersebar di enam kabupaten/kota, yaitu Tapanuli Tengah (Tapteng), Mandailing Natal (Madina), Tapanuli Selatan (Tapsel), Tapanuli Utara (Taput), Kota Sibolga, dan Nias.
Korban di Tapanuli Tengah
Di Kabupaten Tapanuli Tengah, banjir dan longsor telah menyebabkan empat orang tewas dan 1.952 KK terdampak. Longsor terjadi di Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, dengan korban jiwa yang teridentifikasi adalah Dewi Hutabarat (33) dan ketiga anaknya: Trio Arta Rouli (7), Vania Aurora (4), dan Ilona Lumbantobing. Keempat korban ditemukan di dalam rumah mereka yang tertimbun longsor setelah hujan deras.
Banjir di Tapteng berlangsung sejak Minggu, 23 November 2025, sekitar pukul 18.00 WIB, hingga dua hari ke depan. Intensitas hujan tinggi telah terjadi sejak Senin, 17 November 2025. Sebanyak 1.952 KK rumahnya terendam banjir, dengan rincian di Kecamatan Pandan 150 KK, Sarudik 338 KK, Barus 65 KK, Kolang 1.261 KK, Tukka 10 KK, dan Lumut 78 KK.
Korban di Kota Sibolga
Kota Sibolga menjadi wilayah dengan dampak paling parah, mencatat enam titik longsor yang menelan korban jiwa dan merusak belasan rumah. Longsor di Sibolga dilaporkan mengakibatkan enam orang tewas. Salah satu titik longsor di Jalan Lintas S.M. Raja, Kelurahan Pasar Baru, menimpa Cafe Rumah Uci dan Bengkel Beliham, merusak tiga kendaraan dan dua rumah, dengan dua orang masih dalam pencarian.
Di Jalan S.M. Raja, Kelurahan Pancuran Gerobak, longsor menerjang pemukiman padat penduduk, merusak tiga rumah, dan menyebabkan tiga korban, dengan dua hilang dan satu luka-luka. Titik longsor di Jalan S.M. Raja, Kelurahan Aek Parombunan, merusak dua rumah berat dan menyebabkan satu orang meninggal dunia. Di Jalan Sudirman Gg. Perjuangan, Kelurahan Aek Parombunan, lima rumah rusak berat dan empat orang meninggal dunia, dan diduga masih ada korban lain yang tertimbun.
Penyebab Dan Wilayah Terdampak
Bencana ini disebabkan oleh hujan deras yang terjadi sejak malam hari, memicu luapan sungai, banjir bandang, dan longsor di perbukitan. Cuaca ekstrem di kawasan pantai barat Sumatera Utara, khususnya di wilayah Tapanuli Tengah yang menghadap Samudera Hindia/Indonesia, menjadi pemicu banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di berbagai lokasi Tapanuli Tengah.
Data BPBD Sumut mencatat tujuh daerah terdampak, yaitu Kota Sibolga, Gunung Sitoli, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Nias Selatan, Mandailing Natal, dan Padang Lawas. Secara keseluruhan, 1.980 keluarga di enam daerah di Sumatera Utara terdampak banjir dan tanah longsor yang terjadi pada Sabtu (22/11) dan Senin (24/11). Bencana tersebut terjadi di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Kota Sibolga.
Penanganan Dan Dampak Infrastruktur
Polda Sumut mengerahkan seluruh kekuatan terbaiknya untuk membantu penanganan bencana alam, termasuk evakuasi warga terdampak, pencarian korban, dan pengaturan arus lalu lintas di titik-titik kritis. Tim gabungan dari TNI-Polri, BPBD, dan Satpol PP juga telah dikerahkan ke lokasi-lokukasi terdampak. Sejumlah akses jalan utama masih tertutup material longsor dan genangan banjir.
Longsor dan banjir bandang juga melumpuhkan Jalinsum Sipirok-Taput, di mana material tanah dan batu menimbun seluruh lajur sehingga kendaraan tidak dapat melintas, menyebabkan kemacetan panjang. Ruas jalan Sibolga-Padangsidempuan juga mengalami longsor, menimbun sebuah mobil boks ekspedisi dan sebuah mobil tangki BBM Pertamina. Akses nasional terputus dan ribuan warga mengungsi, sementara beberapa wilayah masih terisolasi.
Baca Juga: Pria di Medan Curi Celengan dan Mesin Las Demi Narkoba
Peran Pemerintah Dan Kesiapsiagaan
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, telah meminta Bupati Tapteng untuk memonitor terus kondisi dan mengutamakan keselamatan masyarakat. Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu, juga telah berkoordinasi dengan Gubernur Sumatera Utara mengenai dampak bencana. Pemerintah daerah berharap adanya perhatian dari pemerintah pusat dalam penanganan bencana ini, termasuk kemungkinan penetapan sebagai bencana nasional.
Penetapan status bencana nasional akan menempatkan penanganan di bawah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mencakup pedoman, penanganan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi. BPBD terus mengevakuasi warga rentan ke lokasi aman sambil memantau potensi bencana susulan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, terutama bagi yang tinggal di dekat tebing dan lereng.
Upaya Pemulihan Dan Pencegahan
Pemerintah Kota Sibolga telah menyiapkan langkah penanganan darurat, termasuk posko sementara dan bantuan kebutuhan mendesak bagi warga terdampak. Personel kepolisian juga fokus mengamankan lokasi, mengatur putar balik kendaraan, serta memberikan informasi kepada pengendara.
Pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci untuk penanganan bencana yang komprehensif dan efektif. Upaya pembersihan material longsor dan evakuasi terus dilakukan oleh tim gabungan. Masyarakat juga diharapkan untuk selalu waspada dan segera menghubungi petugas jika membutuhkan bantuan.
Kesimpulan
Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera Utara pada tanggal 25 November 2025 bukanlah fenomena tiba-tiba. Melainkan konsekuensi dari berbagai faktor, termasuk deforestasi masif dan kondisi hidrometeorologis ekstrem. Bencana ini menyebabkan 10 orang tewas, 3 luka-luka, dan 6 orang hilang, dengan 2.393 KK terdampak di enam kabupaten/kota.
Termasuk Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga yang paling parah. Upaya penanganan melibatkan pengerahan personel Polda Sumut untuk evakuasi, pencarian korban, dan pembukaan akses jalan yang terganggu. Simak dan ikuti terus jangan sampai ketinggalan informasi terlengkap mengenai Info Kejadian Medan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari mistar.id
- Gambar Kedua dari medan.kompas.com