Dunia peradilan dihebohkan insiden pelarian terdakwa kasus narkoba, Syalihin, yang menuntut hukuman mati, usai sidang di PN Lubuk Pakam.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (27/1/2026) ini menimbulkan dugaan kuat adanya skenario matang di balik aksi nekat tersebut.
Berikut ini, Info Kejadian Medan akan menyoroti kecepatan dan koordinasi pelarian mengindikasikan adanya bantuan dari pihak luar.
Pelarian Dramatis Di Tengah Pengawalan Ketat
Syalihin, terdakwa kasus kepemilikan 214 kg ganja, berhasil kabur setelah sidangnya selesai. Kasi Intel Kejari Deli Serdang, Andi Sitepu, menduga kuat adanya perencanaan matang di balik pelarian ini. Indikasinya terlihat jelas dari cara Syalihin meloloskan diri dan sambutan di luar gedung pengadilan.
Saat berhasil membuka borgolnya, secara tiba-tiba dua sepeda motor telah menunggunya. Satu motor Kawasaki KLX dan satu lagi Honda Beat menjadi sarana pelarian Syalihin. “Kayaknya memang kami pikir-pikir itu, udah ada skenario direncanakan karena sudah ada orang yang membantu dia,” ujar Andi Sitepu kepada Kompas.com.
Meskipun petugas pengawal sempat melakukan pengejaran, Syalihin berhasil melarikan diri dengan bantuan pengendara motor tersebut. Hingga kini, pihak kejaksaan, kepolisian, dan Badan Narkotika Nasional (BNN) masih terus berupaya memburu keberadaan Syalihin. Kejadian ini menyoroti celah keamanan dalam pengawalan tahanan.
Kronologi Pelarian, Dari Sidang Hingga Kabur
Andi Sitepu menjelaskan kronologi pelarian Syalihin yang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Hari itu, Syalihin baru saja menyelesaikan sidang dengan agenda replik dan pledoi. Setelah sidang, pihak kejaksaan mulai memindahkan Syalihin bersama 39 terdakwa lainnya menuju mobil tahanan untuk dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Lubuk Pakam.
Proses pemindahan dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, 30 orang terdakwa telah berhasil dibawa ke mobil tahanan. Kemudian, petugas pengawal kembali untuk menjemput 10 terdakwa yang tersisa, termasuk Syalihin. Mereka digiring menuju mobil tahanan oleh dua petugas dan petugas lainnya.
Saat proses penggiringan, Syalihin berada di baris kelima, dengan tangan terborgol bergandengan bersama terdakwa lain. Ketika hendak dinaikkan ke mobil tahanan, Syalihin secara mengejutkan mendorong teman yang terborgol dengannya. Momen ini dimanfaatkan untuk melepaskan borgol dari tangannya, sebuah tindakan yang mengindikasikan perencanaan sebelumnya.
Baca Juga: Omzet Judi di Markas Ormas Medan Raup Jutaan Sehari, Ada Kode Khusus!
Dugaan Skenario Dan Penyelidikan Internal
Kecepatan dan kemudahan Syalihin melarikan diri memunculkan dugaan kuat adanya skenario pelarian yang telah disiapkan. Kemunculan dua sepeda motor yang langsung menjemputnya saat ia berhasil lolos dari borgol semakin memperkuat spekulasi ini. Pertanyaan besar muncul mengenai bagaimana informasi mengenai rute dan waktu pelarian bisa bocor.
Pasca kaburnya Syalihin, pihak Kejaksaan Deli Serdang segera melakukan pemeriksaan terhadap petugas yang mengawal. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan tidak ada indikasi keterlibatan petugas dalam skenario pelarian tersebut. Transparansi dalam penyelidikan ini penting untuk menjaga kepercayaan publik.
Namun, dari hasil pemeriksaan sementara, Andi Sitepu menyatakan bahwa tidak ada indikasi keterlibatan petugas. “Kalau sejauh ini dari hasil yang kami (lakukan) saya wawancara langsung dengan anggota, tak ada indikasi ke situ,” ungkap Andi. Meskipun demikian, penyelidikan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengungkap seluruh fakta di balik pelarian Syalihin.
Tantangan Dan Implikasi Keamanan
Insiden pelarian Syalihin menjadi sorotan serius terhadap sistem keamanan dan pengawasan tahanan di pengadilan. Kasus ini menunjukkan bahwa pengawalan terhadap terdakwa dengan tuntutan hukuman berat memerlukan tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi. Evaluasi menyeluruh terhadap prosedur standar operasional pengawalan menjadi krusial.
Pelarian ini juga menimbulkan tantangan besar bagi aparat penegak hukum yang harus kembali memburu Syalihin. Keberadaan seorang terdakwa kasus narkoba dengan tuntutan mati yang bebas berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat. Koordinasi antarlembaga seperti kejaksaan, kepolisian, dan BNN harus ditingkatkan untuk segera menangkap kembali Syalihin.
Pelajaran dari kasus ini harus menjadi momentum untuk memperkuat integritas dan profesionalisme seluruh pihak yang terlibat dalam proses peradilan. Dengan langkah-langkah perbaikan, diharapkan insiden serupa tidak terulang di masa depan, demi menjaga marwah hukum dan keamanan publik.
Selalu pantau berita terbaru seputar Info Kejadian Medan dan info menarik lain yang membuka wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari ftnews.co.id
- Gambar Kedua dari medan.kompas.com