Kisah inspiratif datang dari H. Zulkifli, kakek tunanetra di Medan yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan Al-Qur’an menggunakan huruf Braille.
Meski kehilangan penglihatan sejak muda, ia gigih membuka kelas untuk anak-anak dan orang dewasa tunanetra, membimbing mereka membaca dan memahami ayat suci. Dedikasi dan semangatnya telah menginspirasi komunitas, meningkatkan kepercayaan diri murid, serta menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan tunanetra.
Dapatkan update terbaru seputar peristiwa Medan yang sedang viral, eksklusif yang hanya ada di Info Kejadian Medan.
Kakek Tunanetra Inspiratif Ajarkan Al-Qur’an Braille
Kisah inspiratif datang dari seorang kakek tunanetra bernama H. Zulkifli (72), yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan Al-Qur’an menggunakan huruf Braille. Meskipun kehilangan penglihatan sejak muda, semangatnya untuk menyebarkan ilmu dan keimanan tetap menyala hingga kini.
H. Zulkifli mulai belajar membaca Al-Qur’an Braille pada usia 20 tahun dan kemudian memutuskan untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada anak-anak dan orang dewasa tunanetra lainnya di Medan. Ia percaya bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk memahami kitab suci dan menebar kebaikan.
Setiap hari, kakek ini membuka kelas di rumahnya yang sederhana, menerima murid dari berbagai kalangan usia. Kisahnya menarik perhatian warga sekitar yang kagum dengan ketekunan dan pengabdian H. Zulkifli dalam membimbing generasi tunanetra agar tetap bisa membaca Al-Qur’an.
Semangat Mengajar Meski Terbatas
Mengajar Al-Qur’an Braille bukanlah hal mudah bagi H. Zulkifli. Ia harus menyiapkan materi ajar secara manual, menyusun huruf Braille pada kertas khusus, dan membimbing murid dengan sabar. Ketekunannya ini membuat setiap murid bisa membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara perlahan namun pasti.
Selain itu, keterbatasan fisik kakek ini kerap menimbulkan tantangan, seperti mobilitas terbatas untuk menjangkau murid di luar rumahnya. Meski demikian, ia tetap gigih mengajar dengan dibantu beberapa relawan dan tetangga yang peduli pada pendidikan tunanetra.
“Setiap anak yang bisa membaca Al-Qur’an membuat saya bahagia. Keterbatasan saya bukan penghalang, justru memotivasi saya untuk terus berbagi ilmu,” ujar H. Zulkifli dengan suara lembut namun penuh semangat.
Baca Juga: Darurat Medan: 13 Wilayah Mati Lampu Selama 4 Jam, Simak Daftarnya!
Dampak Positif Bagi Murid dan Komunitas
Dedikasi H. Zulkifli telah memberikan dampak signifikan bagi murid-muridnya. Banyak dari mereka yang kini mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar, menghafal beberapa surat, dan bahkan menjadi pengajar Braille bagi orang tunanetra lainnya. Hal ini turut meningkatkan rasa percaya diri mereka dan memperluas kesempatan pendidikan agama.
Komunitas tunanetra di Medan juga merasakan manfaat dari inisiatif kakek ini. Program belajar Al-Qur’an Braille membantu mereka lebih mandiri dalam beribadah, memahami ajaran agama, dan berinteraksi secara aktif di masyarakat. Beberapa tokoh lokal bahkan menyoroti H. Zulkifli sebagai contoh inspiratif pengabdian tanpa pamrih.
Lebih jauh, dedikasi sang kakek menginspirasi masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap pendidikan tunanetra, termasuk penyediaan fasilitas dan dukungan moral bagi mereka yang ingin belajar Al-Qur’an meski mengalami keterbatasan fisik.
Pesan Moral dan Harapan Kedepan
H. Zulkifli menekankan bahwa belajar dan mengajar adalah bentuk ibadah. Ia berharap lebih banyak orang tunanetra bisa membaca Al-Qur’an dan mendapatkan pengalaman spiritual yang sama. Kakek ini juga mengimbau masyarakat untuk lebih peduli dan mendukung pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Selain itu, H. Zulkifli berencana memperluas kelasnya dengan bekerja sama dengan lembaga sosial dan masjid-masjid sekitar, agar lebih banyak murid bisa belajar Al-Qur’an Braille. Ia yakin bahwa kolaborasi masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program ini.
Kisah haru ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menebar kebaikan. Semangat, ketekunan, dan dedikasi H. Zulkifli menunjukkan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan dan agama.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari medan.kompas.com
- Gambar Kedua dari tempo.co